Pohon Kenangan

Pernah aku membayangkan dari biji biji pohon yang kita basuhi dan basahi bersama kelak akan tumbuh besar menjadi pohon yang lebih hutan. Tapi rupanya langit dan laut lama tak berkawan, musim begitu dahaga, dan pohon kita tak kuasa menahan daun daunnya, kita di bawahnya perlahan kehilangan teduhnya.

Kau memutuskan untuk menanam biji lain yang lebih musim, yang kelak menjadi pohon yang lebih hijau dan aku tak ada di bawahnya. Aku yang tak siap menerima kehilangan, berusaha sekuat tenaga menemukan biji baru hingga bisa aku tumbuhkan menjadi pohon yang tak kalah rimbun.

Musim telah berlalu, hingga hari hari begitu hujan, lebih basah menumbuhkan pohon kita masing masing.

Aku masih ingat seberapa tinggi besarnya pohon kita, jika aku lingkarkan tanganku ke tubuhnya, ada celah cukup longgar untuk sebuah pelukan, tiap batang dan jumlah rantingnya, tak satupun yang aku lewatkan, dengan cermat aku hitung satu per satu setiap pagi.

Di suatu senja di musim yang subur dan syukur, aku menemukan pohon kita tumbuh lebih besar dari ingatanku tentangnya, jika kelak kau pun menemukannya, kau dan aku kini menjadi asing satu sama lain di hadapan pohon kita sendiri.

Rupanya pohon kenangan mengajarkan perihal dan hal hal perih untuk kita, dia menunggu kita tidak di masa lalunya di mana ingatan-ingatan hangat tersimpan, dia menanti kita melewati waktu untuk pertemuan kita, di masa depan.

Advertisements

Sementaranya Pergi

Saat kita menjauh dari tempat kita saat ini sering kali kita merasa aman karena pulang adalah kepastian. Barangkali karena hati kita sangat mudah dibohongi dengan hal-hal yang tak pernah sempurna. Sedikit yang menyadari selangkah dari kita berdiri kini terdapat banyak sekali kemungkinan-kemungkinan. Kita tak pernah kuasa atas apa yang kita miliki, sementara hati kita terlalu mudah memaklumi dan keyakinan kita yang tak pernah punya ukuran, membiarkan membangun dirinya sendiri dengan rapuh. 

Pulangnya kita dari kepergian memahami satu hal. Waktu adalah musuh abadi kita. Kita tak pernah cukup memanfaatkan waktu hingga saatnya kita merindukan kemana seharusnya kita pulang dan kepada siapa kita kembali. 

Hutang Masa Lalu

Terkadang aku merasakan banyak hal yang bisa aku lakukan sekarang namun tidak di masa lalu.

Membelikanmu bunga misalnya, buku, boneka atau kado ulang tahun yang enggan kau rayakan dan hal lain yang mungkin saja bisa menghindarkan nasib kita di masa depan.

Aku percaya kita berjodoh untuk sementara, karena dalam hidup tidak ada hal yang lama kecuali menunggu. 

Aku ingin menjadi orang yang beruntung dan tak ingin berhutang. Seperti layaknya pertemuan yang dengan caranya sendiri menyiapkan perpisahan masing-masing. 

Aku menyiapkan perpisahanku sendiri, setiap pertemuanku dengan seseorang. Aku sebisa mungkin untuk selalu berusaha berbaik hati dan tidak meninggalkan kesan yang buruk sepanjang ingatan seseorang. 

Kereta Api yang membawaku ke kota Jakarta

Selama perjalanan aku menghabiskan waktu untuk memikirkan banyak hal tentangmu. Kota di mana orang-orang berdatangan kepadamu berharap akan mendapatkan kehidupan yang lebih menyenangkan. 

Sementara aku sedikit dari yang enggan menemuimu dan meninggalkan kota kenangan. 

Bagiku, kau hanya mimpi yang sebatas mungkin, kau adalah tumbuhnya biji-biji pohon yang akankah, seperti datangnya anak-anak hujan yang barangkali, dan turunnya selengkung pelangi yang disemogakan. 

Kenangan sudah hidup begitu lama di pikiranku, dia lebih nyata, hangat dan tidak mudah dilupakan. Meskipun tak pandai tapi aku selalu mampu menikmatinya dengan rendah hati. 

Kenangan dan harapan selau berkebalikan, sebagaimana aku mencintai kenangan dan orang-orang sangat suka dengan harapan. 

Barangkali hidup akan selalu membawa kita bertemu pada keretanya masing-masing. Saat engkau tidak bisa lepas dari masa lalu. Tiba-tiba ada saja kereta yang berjalan hati-hati membawa kita menuju harapan dan masa depan. 

Perihal Kenangan

Aku hidup berpindah dari kenangan menuju ke kenangan selanjutnya. Seperti kebanyakan orang lainnya, setiap kita selalu punya kenangan. Kenangan indah yang setiap bertemu dengan seseorang ingin rasanya kita ceritakan dengan bangga kepadanya, maupun kenangan yang ingin sekali rasanya kita potong bagian ceritanya karena kita benar-benar enggan bahwa kita menjadi tokoh utamanya di sana. Tapi sebegitu sedih apapun kenangan, bukankah itu sudah berlalu? dan kita tetap bisa menyikapinya dengan kedewasaan kita? hati kita sudah menerima tanpa harus menyalahkan kebodohan-kebodohan kita yang jauh dari kata seharusnya di waktu itu.

Ingatan selalu aneh untuk digambarkan. Seperti rangkulan ia menjangkau pada jarak dan titik tertentu tidak pada hal-hal yang dekat yang baru saja terjadi, tapi ia memeluk pada waktu yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya, lebih silam dari masa yang sekarang.

Dari ingatan itu ia menyusun tubuhnya sendiri, merangkai sebuah cerita yang kemudian dinamai kenangan.

Tentang kenangan, meskipun bagiku tidak ada kenangan yang berakhir tepat waktu namun pada akhirnya kenangan selalu indah untuk diceritakan.