Hujan Entah Berapa Juni

Jika Bapak Sapardi menemukan ketabahan di Hujan Bulan Juni, lain halnya dengan perasaanku yang begitu Hujan entah berapa Juni kulewatkan sepanjang ingatan.

Bagiku tak ada lagi ketabahan yang bisa aku sematkan pada perasaan yang kini menjelma menjadi ingatan di sudut-sudut kenangan, tak ada kata seharusnya dalam menjalani hidup, menyandang takdir yang diganjal sempitnya berpikir, seakan jalan kita penuh getir.

Perasaanku sangat jeli dan tak mau jadi korban diri sendiri, dia menyikapi suatu peristiwa dengan biasa-biasa saja dan tidak ada hal yang istimewa, kesedihan tak punya kesempatan untuk hidup lama di pikiranku, hingga sampai saatnya dia akan hilang digantikan oleh kesedihan-kesedihan yang lain. Perasaanku selalu berusaha membagi masing-masing dirinya mengiringi suatu peristiwa dengan begitu adil dari satu peristiwa ke peristiwa lain, tak mau lebih ataupun kurang, tak ada yang begitu sedih, tak ada yang terlalu sedih, semuanya dibuat biasa-biasa saja olehnya, begitu juga dengan cara dia menyikapi kebahagiaan.

Dia tidak peduli seberapa bahagia atau sedih hidup yang aku alami, karena aku tak tahu mana dari keduanya yang lebih baik untukku.

Pernahkah engkau memahami, selain kesedihan hari ini, kapan kau merasakan sedih yang teramat sangat, engkau sudah lupa kesedihan yang mendatangkan tangis air mata hari-hari kemarin. Bukan waktu yang menyembuhkan luka tapi hati kita lah yang sudah menerima.

Kesedihan selalu indah di mata ingatan, engkau hanya lupa cara tertawa saat kesedihan hadir. Esok atau kelak kau akan menceritakan kesedihan hari ini dengan cara paling bahagia karena engkau memahami bahwa meski telah ada yang begitu dalam terjadi namun pada akhirnya engkau merasa hidup kita masih baik-baik saja.

Dan kini dari sejak semula segala cerita lahir, ternyata hidup adalah perkara kita hadir menjalani dan mengalami takdir.

Advertisements

Ingatan yang Mendahului Peristiwa

Jika saja engkau mengerti, pertemuan kita di masa lalu adalah akibat perpisahan kita di masa depan.

Barangkali sulit dipahami, aku adalah orang yang rumit, aku lebih suka memikirkan sesuatu yang orang lain menganggapnya sederhana, dan sama sekali tidak tertarik memikirkan kerumitan orang-orang yang berada di sekitarku. Begitu juga ingatanku, dia bukanlah sesuatu yang sederhana, dia memiliki kebiasaan yang aneh, selalu berusaha keras untuk mendahului peristiwa apapun yang akan terjadi.

Saat lomba lari, ingatanku tahu bahwa akulah pemenangnya hingga kemudian ia menggerakkan kaki-kakiku untuk lari sekencang-kencangnya dan mengakhirinya di posisi terdepan, rupanya ingatan menyiapkan tubuhku agar pantas menerima kemenanganku kelak.

Ingatan sangat pandai berkata-kata, saat pertama kali kau hadir dalam hidupku, dia menggandengmu dengan kesedihan lain sambil berkata : “Ada yang kelak akan berpisah.” Dia menyiapkan kesedihan sebelum sedih itu sendiri menghampiri, seperti tangis yang mendahului air mata, seperti tawa yang pecah mendahului alasan dan kebahagiaan.

Sebelum saat berpisah tiba, aku selalu percaya bahwa kau adalah orang yang baik, aku tak pernah marah meskipun engkau menyakitiku berkali-kali, sebab ingatanku mengerti benar di masa depan, kelak engkau sungguh sangat menyesal.

Aku hidup begitu lama bersama ingatanku, dia mengajariku banyak hal.

Dan kini ingatan menuntunku menuliskan tulisan ini karena dia tahu bahwa Kau kini mengerti kenapa pertemuan kita ada, karena di masa depan aku dan engkau akan mengalami perpisahan.

Pohon Kenangan

Pernah aku membayangkan dari biji biji pohon yang kita basuhi dan basahi bersama kelak akan tumbuh besar menjadi pohon yang lebih hutan. Tapi rupanya langit dan laut lama tak berkawan, musim begitu dahaga, dan pohon kita tak kuasa menahan daun daunnya, kita di bawahnya perlahan kehilangan teduhnya.

Kau memutuskan untuk menanam biji lain yang lebih musim, yang kelak menjadi pohon yang lebih hijau dan aku tak ada di bawahnya. Aku yang tak siap menerima kehilangan, berusaha sekuat tenaga menemukan biji baru hingga bisa aku tumbuhkan menjadi pohon yang tak kalah rimbun.

Musim telah berlalu, hingga hari hari begitu hujan, lebih basah menumbuhkan pohon kita masing masing.

Aku masih ingat seberapa tinggi besarnya pohon kita, jika aku lingkarkan tanganku ke tubuhnya, ada celah cukup longgar untuk sebuah pelukan, tiap batang dan jumlah rantingnya, tak satupun yang aku lewatkan, dengan cermat aku hitung satu per satu setiap pagi.

Di suatu senja di musim yang subur dan syukur, aku menemukan pohon kita tumbuh lebih besar dari ingatanku tentangnya, jika kelak kau pun menemukannya, kau dan aku kini menjadi asing satu sama lain di hadapan pohon kita sendiri.

Rupanya pohon kenangan mengajarkan perihal dan hal hal perih untuk kita, dia menunggu kita tidak di masa lalunya di mana ingatan-ingatan hangat tersimpan, dia menanti kita melewati waktu untuk pertemuan kita, di masa depan.

Hutang Masa Lalu

Terkadang aku merasakan banyak hal yang bisa aku lakukan sekarang namun tidak di masa lalu.

Membelikanmu bunga misalnya, buku, boneka atau kado ulang tahun yang enggan kau rayakan dan hal lain yang mungkin saja bisa menghindarkan nasib kita di masa depan.

Aku percaya kita berjodoh untuk sementara, karena dalam hidup tidak ada hal yang lama kecuali menunggu. 

Aku ingin menjadi orang yang beruntung dan tak ingin berhutang. Seperti layaknya pertemuan yang dengan caranya sendiri menyiapkan perpisahan masing-masing. 

Aku menyiapkan perpisahanku sendiri, setiap pertemuanku dengan seseorang. Aku sebisa mungkin untuk selalu berusaha berbaik hati dan tidak meninggalkan kesan yang buruk sepanjang ingatan seseorang.